Di masa lalu sekitar tahun 1970 an hingga 1990 an kehidupan masyarakat terasa lebih sederhana. Bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena arus informasi tidak secepat dan sebesar sekarang. Banyak hal yang terjadi di tingkat pemerintahan, ekonomi, politik, atau keamanan negara yang tidak setiap saat hadir di ruang-ruang percakapan masyarakat. Informasi berjalan pelan, sebagaimana kehidupan berjalan dengan ritme yang lebih tenang.
Pada masa itu, masyarakat lebih sibuk dengan kehidupan nyata yang ada di hadapannya. Petani pergi ke sawah sejak pagi, nelayan berlayar mengikuti arus laut, pedagang membuka lapaknya di pasar, dan para orang tua bekerja keras agar dapur tetap berasap. Kehidupan berputar pada kerja, keluarga, ibadah, dan hubungan sosial di kampung. Orang tidak setiap hari memikirkan fluktuasi harga emas dunia, tidak pula memantau indeks saham atau membaca berita geopolitik di belahan bumi lain. Jika terjadi gejolak ekonomi dunia, masyarakat tidak langsung dihantui kecemasan. Mereka percaya bahwa negara dan pemerintah memiliki mekanisme untuk mengurusnya.
Bukan berarti masyarakat saat itu tidak peduli terhadap keadaan bangsa. Mereka tetap mencintai negaranya, tetap berharap kehidupan menjadi lebih baik. Namun ada batas antara apa yang menjadi tanggung jawab masyarakat dan apa yang menjadi ruang kerja para pengambil kebijakan. Ada semacam keseimbangan alami dalam kehidupan: masyarakat bekerja dan menjalani hidupnya, sementara negara memikirkan kebijakan dan jalan keluar bagi persoalan besar.
Kini zaman telah berubah. Kita hidup di era keterbukaan informasi yang luar biasa cepat. Dalam hitungan detik, berita dari berbagai penjuru dunia dapat sampai ke genggaman tangan kita. Jika harga emas dunia naik pagi ini, maka dalam hitungan detik kita sudah mengetahuinya. Jika terjadi peperangan di Timur Tengah, maka pada saat yang sama layar ponsel kita sudah dipenuhi gambar, video, dan analisis yang terus mengalir tanpa henti.
Demikian pula dengan informasi ekonomi global. Ketika harga minyak dunia naik, ketika pasar saham di negara besar bergejolak, ketika ada kabar resesi atau krisis ekonomi, semuanya langsung hadir di hadapan kita. Tidak jarang informasi itu datang bersamaan dengan berbagai opini, analisis, bahkan spekulasi yang belum tentu semuanya benar. Akibatnya, bukan hanya pemerintah yang memikirkan persoalan itu, masyarakat pun ikut memikirkannya bahkan terkadang memikirkannya dengan kecemasan yang berlebihan.
Di sinilah tantangan zaman modern muncul. Informasi yang seharusnya menjadi pengetahuan justru kadang berubah menjadi sumber kegelisahan. Kita membaca berita demi berita, mengikuti perdebatan demi perdebatan, hingga tanpa sadar hati kita dipenuhi rasa khawatir tentang hal-hal yang sebenarnya berada jauh di luar kendali kita.
Padahal, jika kita menoleh ke masa lalu, kita akan menyadari sesuatu yang sederhana namun sangat berharga: dulu kita tidak mengetahui semua hal itu, tetapi hidup tetap berjalan dengan tenang. Masyarakat tetap bekerja, tetap membangun keluarga, tetap saling menolong, dan tetap menatap masa depan dengan harapan.
Oleh karena itu, bijaksana rasanya jika kita belajar kembali menempatkan diri secara proporsional di tengah derasnya arus informasi. Tidak semua berita harus membuat kita panik. Tidak semua kabar harus membuat kita merasa seolah-olah dunia sedang runtuh. Ada hal-hal besar yang memang menjadi wilayah kerja pemerintah, para ahli ekonomi, dan para pengambil kebijakan negara.
Sebagai masyarakat, tentu kita boleh mengetahui informasi, boleh mengikuti perkembangan zaman, dan boleh memiliki kepedulian terhadap keadaan bangsa. Namun kita juga perlu menjaga ketenangan hati. Jangan sampai informasi yang datang setiap detik justru membuat pikiran kita dipenuhi kegelisahan yang tidak perlu.
Dalam kehidupan, selalu ada apa yang disebut dengan “rule of the game” aturan main dalam menjalani peran masing-masing. Negara memiliki perannya, pemerintah memiliki tanggung jawabnya, dan masyarakat pun memiliki ruang pengabdiannya sendiri. Ketika masing-masing menjalankan peran itu dengan baik, maka kehidupan akan berjalan dengan lebih seimbang.
Maka tetaplah bekerja dengan sungguh-sungguh. Rawatlah keluarga dengan penuh kasih. Bangunlah kehidupan yang jujur, sederhana, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Informasi boleh datang silih berganti, berita boleh berubah setiap saat, tetapi ketenangan hati adalah sesuatu yang harus kita jaga.
Karena pada akhirnya, kehidupan yang baik bukanlah kehidupan yang dipenuhi kecemasan tentang segala hal yang terjadi di dunia, melainkan kehidupan yang dijalani dengan kesadaran, ketenangan, dan keyakinan bahwa setiap persoalan memiliki waktunya untuk diselesaikan.
Dan sebagaimana generasi dahulu mampu menjalani hidup dengan keteguhan dan kesederhanaan, kita pun sebenarnya mampu melakukan hal yang sama selama kita tidak membiarkan arus informasi menguasai pikiran kita, tetapi justru kita yang menguasai diri kita sendiri.
