Permasalahan yang tengah terjadi pada Dea Anugrah menunjukkan kepada kita bahwa seorang penulis muda berbakat, bahkan seorang sarjana filsafat sekalipun, tidak pernah sepenuhnya terbebas dari bias—entah bias kelas, ideologis, maupun bias-bias lain yang kerap tak disadari. Dari kasus semacam ini, kita diingatkan untuk lebih mawas diri ketika berbicara tentang apa pun: gagasan, ide filosofis, agama, maupun sikap dan keputusan politik.
Sikap mawas diri menjadi semakin penting hari ini karena satu alasan sederhana: agar kita tidak mudah terjerumus pada keyakinan dan keputusan yang keliru, membahayakan, bahkan sewenang-wenang (fasis). Dalam arti lain, kita dituntut untuk lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih sabar dalam memahami serta mendalami suatu persoalan. Kita perlu berani mengoreksi dan mempertanyakan kembali apa yang telah kita yakini, sekaligus melihat keterkaitannya dengan realitas yang lebih luas—realitas yang tak pernah sepenuhnya dapat kita pahami.
Selain itu, persoalan ini juga menyingkap sisi lain: betapa “kejamnya” ruang media sosial hari ini. Warga dunia maya begitu mudah menghukumi, menghakimi, menghujat, bahkan “membunuh” karakter seseorang yang dianggap bersalah—atas dasar pandangan filosofis, politik, ideologis, ekonomi, dan seterusnya. Seseorang yang telah divonis bersalah seolah diperlakukan seperti iblis yang harus segera “dimurnikan” dari ruang sosialnya. Fenomena ini tidak hanya menimpa satu dua orang; ia berulang dan berlaku bagi siapa saja.
Ironisnya, pola ini cenderung bersifat timbal balik. Jika kasus serupa menimpa orang lain—bukan Dea Anugrah—besar kemungkinan tindakan serupa (virtue signaling) juga akan dilakukan oleh kelompok yang hari ini mengkritiknya. Demikian pula sebaliknya: mereka yang pernah menjadi sasaran hujatan bisa saja, pada kesempatan lain, melakukan hal yang sama kepada orang lain. Dalam batas tertentu, sikap ini mungkin terasa lumrah karena ada beragam faktor psikologis dan sosial yang mendorong individu bertindak demikian.
Namun, fenomena yang kerap muncul di media sosial ini mengingatkan saya pada ucapan Félix Guattari bahwa everybody wants to be a fascist—setiap orang memiliki potensi menjadi fasis. Pernyataan ini tidak dimaksudkan sebagai tuduhan moral, melainkan sebagai penjelasan tentang potensi psikologis yang inheren dalam diri manusia dan struktur sosial. Fasisme, dalam pengertian ini, tidak selalu datang dari luar; benihnya dapat tumbuh dari dalam diri, dari hasrat akan ketertiban, keseragaman, dan kepatuhan. Karena itulah gejala semacam ini patut diwaspadai.
Hilangnya kebijaksanaan, kerendahan hati, serta sikap adil dan rasional—yang mampu melihat persoalan secara tidak hitam-putih—menjadi ciri yang kerap tampak di media sosial. Padahal, setiap persoalan selalu dipengaruhi oleh situasi yang kompleks, bahkan bersifat sistemik. Ketika ruang diskusi menyempit menjadi sekadar vonis dan pengucilan, maka kemungkinan dialog dan pembelajaran ikut tergerus.
Dampak dari menguatnya “mikrofasisme” (dalam arti Guattari) adalah tertutupnya kemungkinan perubahan dalam diri manusia. Padahal, manusia adalah makhluk yang terbatas dan rentan; ia tak pernah luput dari kesalahan, kekhilafan, dan kebodohan. Ini berlaku bagi siapa pun, bukan hanya bagi Dea Anugrah. Tentu saja, kesalahan memiliki derajat yang berbeda-beda—dari yang ringan hingga yang berat dan menindas. Tidak semua kesalahan dapat diperlakukan dengan ukuran yang sama.
Ada kesalahan yang masih dapat dimaklumi dan dimaafkan, misalnya kekeliruan di masa lalu yang lahir dari keterbatasan pengetahuan atau situasi tertekan, selama tidak membahayakan orang lain. Ada pula kesalahan yang terasa lebih sulit dipahami dan lebih berat untuk dimaafkan—bukan berarti mustahil untuk dimaafkan, melainkan membutuhkan perenungan yang lebih dalam.
Dalam kasus ini, yang menjadi pertanyaan bukan semata soal memaafkan atau tidak, melainkan bagaimana memahami peristiwa tersebut. Apa yang ditulis dan diucapkan Dea dilakukan dalam kondisi sadar, melalui proses penalaran, dan pada usia yang telah matang. Di sinilah letak kegelisahan itu: bagaimana mungkin hal semacam ini terjadi pada sosok dengan latar belakang pendidikan filsafat dan reputasi intelektual tertentu?
Namun justru di situlah kita diingatkan kembali bahwa manusia tidak pernah final. Ia bukan entitas yang sepenuhnya tuntas atau sempurna. Manusia selalu berada dalam proses becoming—senantiasa mungkin berubah, keliru, dan belajar ulang. Kesadaran akan keterbatasan ini semestinya membuat kita lebih rendah hati, serta tidak mudah terjerumus pada penghakiman buta atau sikap sewenang-wenang terhadap orang lain.
Pada akhirnya, barangkali yang paling mendesak bukanlah memenangkan perdebatan atau menunjukkan superioritas moral, melainkan menjaga ruang agar refleksi, koreksi diri, dan kemungkinan perubahan tetap terbuka—baik bagi orang lain, maupun bagi diri kita sendiri.
