Minggu, Februari 15, 2026

Ketika Nilai Diri Perempuan Terjebak pada Standar Tubuh

Riani Ani
Riani Ani
Mahasiswa Hukum Keluarga Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
- Advertisement -

Sebagian perempuan tumbuh di lingkungan yang tanpa sadar menilai dirinya dari bentuk tubuh, warna kulit, tinggi badan, atau ukuran tertentu. Sejak kecil, komentar tentang “terlalu gemuk”, “terlalu kurus”, “kulit kurang cerah”, atau “hidung kurang mancung” kerap dianggap sebagai candaan, padahal perlahan membentuk cara seseorang memandang dirinya.

Standar kecantikan yang sempit, rasa tidak puas pada tubuh, dan budaya membandingkan diri dengan figur di media sosial dapat menanamkan keyakinan bahwa nilai diri ditentukan oleh penampilan. Dari sinilah body image negatif mulai tumbuh, membuat perempuan merasa tidak pernah cukup, meski telah berusaha keras.

Tekanan Sosial dan Fenomena Operasi Estetika

Tuntutan untuk tampil sesuai standar tidak hanya datang dari lingkungan, tetapi juga dari diri sendiri yang telah menginternalisasi ekspektasi tersebut. Akibatnya, tidak sedikit perempuan yang memilih jalan instan melalui prosedur estetika. International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS) dalam Survei Global tahun 2023 mencatat bahwa jumlah prosedur estetika dunia hampir mencapai 35 juta, yakni 34,9 juta tindakan bedah dan non-bedah. Angka ini meningkat 3,4% dari tahun sebelumnya dan melonjak sekitar 40% dalam empat tahun terakhir.

Prosedur bedah naik 5,5% dengan liposuction sebagai yang paling populer, diikuti pembesaran payudara, operasi kelopak mata, abdominoplasti, dan rhinoplasti. Untuk prosedur non-bedah, suntik botulinum dan asam hialuronat mendominasi (ISAPS, 2024). Data ini menunjukkan bahwa tekanan untuk memiliki tubuh “ideal” bukan lagi isu individual, melainkan fenomena global yang menyentuh jutaan perempuan.

Tidak sedikit dari mereka yang rela mengeluarkan biaya yang besar, menahan rasa sakit, bahkan mengambil risiko kesehatan demi mendapatkan bentuk tubuh yang ideal atau yang dianggap lebih layak diterima. Di balik semua itu, sering kali tersimpan harapan yaitu ingin merasa cukup, ingin dicintai, dan ingin diterima.

Ketika Obsesi Berubah Menjadi Gangguan Mental

Saat perempuan terus-menerus memfokuskan pikiran pada kekurangan penampilannya, kondisi ini dalam ranah psikologis dapat berkaitan dengan Body Dysmorphic Disorder (BDD).

BDD adalah gangguan mental yang membuat seseorang terus terobsesi pada bagian tubuh yang dianggap tidak ideal, meski sering kali tidak disadari atau tidak terlihat oleh orang lain. Perempuan dengan BDD dapat menghabiskan banyak waktu untuk bercermin, menyembunyikan bagian tubuh tertentu, membandingkan diri dengan orang lain, atau mencari validasi yang tidak pernah terasa cukup.

Dampak dari Body Dysmorphic Disorder

Ketika perempuan larut dalam gangguan body dysmorphic maka akan berdampak pada kesehatan mental, seperti:

1. Munculnya rasa cemas, stres, dan insecure berlebihan

Pikiran terus-menerus terfokus pada kekurangan fisik membuat individu merasa tidak pernah cukup baik. Hal ini memicu kecemasan sosial, stres berkepanjangan, dan rasa tidak percaya diri yang berlebihan, bahkan dalam situasi sehari-hari.

- Advertisement -

2. Menarik diri dari pergaulan karena merasa tidak aman dengan penampilan 

Perasaan malu dan takut dinilai membuat seseorang menghindari bertemu orang lain, enggan tampil di depan umum, atau membatasi interaksi sosial, yang pada akhirnya dapat memicu kesepian dan isolasi emosional. Selain itu, mereka pun cenderung menarik diri dari hubungan karena khawatir akan diabaikan karena fisiknya.

3. Pola makan yang tidak sehat karena tekanan untuk mengubah tubuh 

Dorongan untuk memiliki tubuh ideal dapat berujung pada diet ekstrem, gangguan makan, atau hubungan yang tidak sehat dengan makanan, yang berdampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mental.

4. Menghambat perkembangan diri dan kualitas hidup

Fokus berlebihan pada penampilan membuat energi mental terkuras, sehingga mengganggu konsentrasi, produktivitas, serta kepercayaan diri untuk berkembang di bidang pendidikan, karier, maupun relasi.

5. Sulit menikmati hidup karena energi habis untuk mengkritik diri sendiri

Alih-alih merasakan syukur dan kebahagiaan, perempuan yang mengalami body dysmorphic disorder terus terjebak dalam self-criticism, membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis, sehingga kebahagiaan terasa jauh dan hidup dipenuhi rasa tidak puas.

Menumbuhkan Rasa Cukup dan Kasih pada Diri

Penting untuk diingat bahwa tidak semua rasa tidak percaya diri atau ketidakpuasan terhadap tubuh dapat langsung disebut sebagai Body Dysmorphic Disorder. Namun, setiap perasaan tidak nyaman terhadap tubuh layak divalidasi, didengarkan, dan diperlakukan dengan empati, bukan dihakimi.

“Nilai dirimu tidak ditentukan oleh bentuk fisikmu, melainkan dari attitude, cara berpikir, dan cara memanusiakan orang lain yang menentukan seberapa berharga dirimu.”

Tubuh bukanlah standar nilai diri, melainkan rumah yang menemani kita bertumbuh. Setiap perempuan berhak merasa cukup, aman, dan berharga, tanpa harus menyesuaikan diri dengan satu versi ‘cantik’ yang sempit.

Jika kamu atau orang terdekat mulai merasa tertekan dengan citra tubuh, maka mulai dari belajar berdamai dengan tubuh, mempraktikkan self-compassion, serta mencari bantuan profesional adalah bentuk mencintai diri, bukan tanda kelemahan. Justru di sanalah keberanian untuk merawat kesehatan mental dan menghargai diri apa adanya.

Riani Ani
Riani Ani
Mahasiswa Hukum Keluarga Islam di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.