Senin, Februari 2, 2026

Prahara Awal Februari 2026 Saat Bitcoin, Emas, dan IHSG Tergulung Badai yang Sama

Bona Simanjuntak
Bona Simanjuntak
Peneliti Politik & Digital Indonesia, Mahasiswa Doktoral MSDM Universitas Negeri Jakarta Mantan mahasiswa di Germany, Korea Selatan & Taiwan
Senin, 2 Februari 2026, akan dikenang sebagai salah satu hari paling kelam dalam kalender finansial tahun ini. Di pasar global, Bitcoin tersungkur ke level 77.500 dollar AS dan emas terlempar dari singgasananya di 5.300 dollar AS per troy ons. Namun, bagi publik Indonesia, luka itu terasa lebih pedih ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terjun bebas, ambruk lebih dari 4 persen hingga menembus level psikologis 8.000 pada pembukaan perdagangan pagi ini.
Fenomena ini menciptakan sebuah anomali yang mencemaskan: cross-asset correlation atau korelasi antar-aset yang mendadak searah dalam tren menurun. Saat aset berisiko (Bitcoin), aset aman (emas), dan pasar modal domestik (IHSG) jatuh bersamaan, kita tidak sedang sekadar melihat koreksi teknis biasa. Kita sedang menyaksikan sebuah “simfoni kejatuhan” yang dipicu oleh krisis likuiditas global dan diperparah oleh ketidakpastian domestik.
Pemicu utama dari rontoknya Bitcoin dan emas secara bersamaan adalah fenomena Dash for Cash . Di tengah ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat dan memanasnya tensi dagang global di awal 2026, para investor institusi besar terjebak dalam posisi leverage yang tinggi. Ketika harga emas mulai terkoreksi tajam, mereka menghadapi margin call yang memaksa likuidasi aset di semua lini.
Bitcoin, sebagai aset yang paling likuid dan telah mengalami reli panjang di 2025, menjadi “ATM” pertama yang dicairkan untuk menutupi kerugian di pasar lain. Dalam kondisi ini, narasi emas sebagai pelindung nilai dan Bitcoin sebagai emas digital untuk sementara lumpuh oleh satu kebutuhan mendesak: dollar AS tunai.
Bagi IHSG, badai global tersebut menghantam di saat pertahanan domestik sedang rapuh. Kejatuhan indeks hari ini bukan sekadar imbas dari merosotnya harga komoditas global, melainkan akumulasi dari “badai sempurna” di dalam negeri.
Pertama, keputusan MSCI yang membekukan sementara bobot indeks sekuritas Indonesia telah memicu kecemasan akan eksodus dana pasif asing ( passive fund outflow ). Tanpa adanya peningkatan bobot, daya tarik pasar saham kita di mata investor global merosot seketika. Kedua, guncangan hebat terjadi di pucuk pimpinan otoritas pasar modal. Mundurnya sejumlah tokoh kunci di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) secara hampir bersamaan menciptakan lubang kepercayaan. Meski pemerintah melalui kementerian terkait mencoba menenangkan pasar dengan menjamin operasional bursa tetap berjalan normal, psikologi investor tetap terganggu. Di pasar finansial, ketidakpastian manajemen adalah racun yang lebih mematikan daripada penurunan harga itu sendiri.
Kaitan langsung antara jatuhnya aset global dan IHSG terlihat jelas pada sektor tambang dan emas. Saham-saham emiten emas yang sempat menjadi primadona di akhir 2025 kini berjatuhan mendekati level double digit begitu harga acuan emas global ambles. Penurunan ini menyeret turun kapitalisasi pasar secara signifikan, mengingat emiten-emiten besar di sektor ini memiliki bobot yang cukup kuat dalam pergerakan indeks.
Sejarah mengajarkan bahwa korelasi searah dalam tren menurun ( downtrend correlation ) seperti ini biasanya bersifat jangka pendek namun menyakitkan. Ini adalah fase “pembersihan” di mana spekulan dipaksa keluar dan nilai aset dikalibrasi ulang.
Bagi investor, periode Februari 2026 ini adalah ujian bagi ketahanan psikis. Kejatuhan Bitcoin, emas, dan IHSG secara bersamaan menandakan bahwa pasar sedang mencari lantai baru. Begitu tekanan likuidasi global mereda dan transisi kepemimpinan di otoritas pasar modal domestik stabil, arus balik biasanya akan terjadi secara cepat.
Namun, sebelum fajar itu tiba, strategi terbaik bukanlah melakukan perlawanan terhadap arus, melainkan menjaga likuiditas. Di bulan Februari yang dingin ini, mereka yang mampu bertahan di tengah kepanikan adalah mereka yang memiliki kesabaran untuk menunggu hingga simfoni kejatuhan ini mencapai nada terakhirnya.
Bona Simanjuntak
Bona Simanjuntak
Peneliti Politik & Digital Indonesia, Mahasiswa Doktoral MSDM Universitas Negeri Jakarta Mantan mahasiswa di Germany, Korea Selatan & Taiwan
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.