Senin, Februari 9, 2026

Mengapa Kita Perlu Menggugat Kelas?

Muallifah
Muallifah
Praktisi Pendidikan/Program Director at ThinkTank.ID. Bisa disapa melalui Instagram @Muallifah_ifa
- Advertisement -

Srintil, ketika berbicara tentang betapa susahnya mencari kerja karena hanya lulusan SMA, sedangkan hampir semua pekerjaan mensyaratkan S1 serta berpenampilan menarik sungguh memilukan. Sedangkan orang tuanya, hanyalah buruh pabrik, yang sampai hari ini, kebutuhan tiap bulan tidak tercukupi dengan gaji yang diperoleh orang tuanya. Ia juga harus menjadi buruh. Kadang disuruh membantu membersihkan rumah, atau menemani anak kecil atau bekerja harian sebagai karyawan di salah satu rumah makan. Setiap hari, pekerjaan Srintil berbeda-beda sesuai apa yang dibutuhkan oleh orang lain pada hari tersebut.

Beda dengan kisah Srintil, Ajeng, yang baru lulus sarjana, bekerja menjadi akuntan di sebuah perusahaan. Kebetulan, perusahaan tersebut milik sahabat karib orang tuanya. Tanpa diawali status staff magang, ia langsung diterima tanpa syarat dan hanya melampirkan ijazah dan portofolio saat kuliah. Pengalaman berbeda dialami oleh Andi. Pasca lulus menjadi seorang sarjana hukum dan menempuh pendidikan advokat selama beberapa bulan terakhir, ia langsung bekerja di firma hukum milih ayahnya.

Cerita-cerita di atas, bukanlah sebuah karangan biasa. Kisah-kisah alamiah yang datang dari berbagai kenyataan pencari kerja di Indonesia cukup beragam. Susahnya mencari kerja di tengah lapangan kerja yang menyempit namun kebutuhan pokok harus terpenuhi adalah salah satu masalah utama hidup ini. Di tengah padatnya peminat acara bursa kerja di berbagai daerah, para pelamar berdesa-desakan untuk mencari kerja, namun di sisi lain justru ada banyak orang yang bekerja tanpa berdesak-desakan tersebut.

Atau masalah lain adalah kenyataan bahwa gaji bulanan tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari hari jika hanya mengandalkan dari 1 pendapatan. Namun, kenyataan yang lebih pahit adalah di sisi lain, ada kelompok masyarakat yang bisa membeli tas seharga 10 kali rumah KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Sungguh ketimpangan yang mematikan bukan?

Kenyataan pahit lain dari kemiskinan ini adalah banyaknya pengangguran di Indonesia. Jumlah pengangguran di Indonesia pada Agustus 2025 mencapai 7,46 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 4,85 persen, yang menunjukkan penurunan tipis dibanding Agustus 2024 (4,91%). Jumlah ini akan terus bertambah dengan seiring banyaknya lulusan yang belum bisa terserap kerja dengan maksimal, ditambah dengan berbagai faktor yang lain.

Salah Siapa?

Masalah kemiskinan, pengangguran, dan rendahnya upah sebagai buruh, adalah masalah kompleks yang tidak pernah ada habisnya. Masalah tersebut berkelindan satu sama lain, disusul dengan tingginya angka PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di Indonesia.

Di tengah berbagai masalah tersebut, hal yang harus kita pahami bahwa ada masalah kelas yang dimiliki oleh manusia. Seseorang memiliki privilege yang dimiliki sejak lahir. Misalnya, kekayaan. Seseorang yang terlahir dari kecil kaya, sebagian besar akan mendapatkan kenyamanan dalam hidup, seperti pendidikan yang bagus, sosial yang bagus, hingga kebutuhan pokok tercukupi, bahkan pekerjaan yang sudah disediakan orang tuanya.

Namun, kenyataan tersebut berbanding terbalik dengan seseorang yang harus berupaya untuk mencukupi kehidupan sehari-hari, ditambah dengan harus mencari pekerjaan yang layak, serta memenuhi kebutuhan orang tuanya (sandwich generation). 

Masalah kelas, juga menjadi salah satu kritik yang disampaikan oleh Marx. Ia membagi masyarakat dalam dua kelas: borjuis (pemilik modal) dan proletariat (pekerja). Artinya, pekerja, selain bekerja untuk memenuhi kebutuhan pokok, ia akan memperkaya pemilik modal. Sedangkan bagi pemilik modal, sekalipun ia tidak mengeluarkan energi fisik yang berat dibandingkan kaum proletariat, ia akan tetapkan dikayakan dengan sistem yang sudah berjalan-dijalankan oleh kaum proletar.

Argumen di atas juga memperkuat kenyataan adanya kemiskinan struktural. Masyarakat miskin tidak selalu terjadi pada orang yang malas bekerja atau tidak bekerja. Namun, sekalipun kita bekerja 24 jam, gajinya tidak akan sama dengan kaum bourjuis. Tidak hanya itu, sekalipun kita capek mencari kerja, panas-panasan, serta berdesark-desakan untuk mencari kerja, tidak akan sama dengan orang yang sudah disediakan lapangan pekerja oleh pamannya.

Muallifah
Muallifah
Praktisi Pendidikan/Program Director at ThinkTank.ID. Bisa disapa melalui Instagram @Muallifah_ifa
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.