Minggu, Februari 1, 2026

Siklus Kemiskinan yang Diwariskan dalam Keluarga di Indonesia

Dwi Rachmawati
Dwi Rachmawati
Seorang pengajar di sebuah kampus swasta dan menyukai tentang dunia tulis menulis. Tertarik pada tema kemanusiaan, keseharian, dan makna di balik hal-hal sederhana. Percaya bahwa tulisan adalah cara jujur untuk memahami dunia dan diri sendiri.
- Advertisement -

Salah satu penyebab utama sulitnya pemberantasan kemiskinan di Indonesia adalah adanya siklus kemiskinan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Siklus ini sering kali berawal dari pasangan usia produktif, sekitar usia 20-an, yang memutuskan menikah tanpa kesiapan ekonomi dan pekerjaan yang stabil.

Dalam keterbatasan tersebut, kehadiran anak sering kali dianggap sebagai hal yang “mengalir saja”, tanpa perencanaan yang matang. Ketika kebutuhan hidup semakin berat, bantuan dari pemerintah menjadi satu-satunya harapan. Mereka merasa miskin, dan memang hidup dalam kondisi kekurangan, sehingga merasa wajar jika membutuhkan perhatian negara.

Masalahnya, bantuan sosial sering kali hanya menjadi solusi jangka pendek, sementara akar persoalan tidak benar-benar diselesaikan. Anak-anak yang lahir dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi ini tumbuh tanpa tabungan pendidikan yang memadai. Namun, persoalan tidak berhenti di sana.

Anak-anak yang lahir dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas tumbuh dalam ruang yang penuh keterbatasan pilihan. Orang tua, meskipun memiliki niat baik, sering kali tidak mampu menyiapkan tabungan pendidikan atau lingkungan belajar yang memadai. Akibatnya, pendidikan anak terhenti di jenjang SMA atau SMK, bahkan ada yang harus putus sekolah lebih awal demi membantu ekonomi keluarga. Bukan karena anak tidak mampu, melainkan karena keadaan memaksa mereka untuk mengalah.

Ketika anak-anak ini beranjak dewasa, beban baru kembali diletakkan di pundak mereka. Ada orang tua yang mendorong anaknya untuk segera menikah agar tanggung jawab ekonomi keluarga berkurang. Ada pula anak pertama yang diminta bekerja dan mengorbankan pendidikan atau masa mudanya demi membiayai adik-adiknya. Dalam banyak kasus, hal ini dianggap sebagai bentuk “bakti anak”. Padahal, tanggung jawab untuk menafkahi dan menjamin masa depan anak sejatinya adalah kewajiban orang tua, bukan anak sulung.

Pola seperti ini menciptakan lingkaran setan kemiskinan. Anak yang seharusnya fokus membangun masa depan justru terbebani tanggung jawab yang bukan miliknya. Ketika mereka menikah dalam kondisi ekonomi yang belum mapan, siklus yang sama kembali terulang: menikah muda, pekerjaan tidak stabil, pendidikan rendah, dan ketergantungan pada bantuan sosial.

Di titik inilah siklus kemiskinan kembali berputar. Anak yang tumbuh dalam keterbatasan, dengan pendidikan dan kesempatan yang minim, akhirnya memasuki dunia pernikahan dan keluarga dalam kondisi yang sama seperti orang tuanya dulu. Bukan karena mereka tidak mau berusaha, tetapi karena sejak awal ruang geraknya sudah sempit. Kemiskinan pun terus berulang, seolah menjadi takdir yang sulit dipatahkan.

Karena itu, pemberantasan kemiskinan tidak bisa hanya mengandalkan bantuan sosial. Bantuan memang penting untuk menyelamatkan kehidupan hari ini, tetapi tidak cukup untuk menjamin masa depan. Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang: tentang pentingnya perencanaan keluarga, kesiapan menikah, pendidikan anak, dan pemahaman bahwa memiliki anak juga berarti siap bertanggung jawab penuh atas hidup mereka.

Selama pola pikir dan pola hidup seperti ini terus berlangsung, kemiskinan di Indonesia akan sulit diberantas. Upaya pemerintah melalui bantuan sosial perlu dibarengi dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya perencanaan keluarga, pendidikan, dan tanggung jawab orang tua. Tanpa perubahan pada akar masalah ini, kemiskinan tidak akan benar-benar hilang, melainkan hanya berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Kemiskinan di Indonesia bukan semata soal kurangnya bantuan atau minimnya sumber daya. Di balik angka-angka statistik, terdapat cerita panjang tentang keluarga, pilihan hidup, keterbatasan, dan pola yang terus berulang dari generasi ke generasi. Salah satu realitas yang jarang dibicarakan secara jujur adalah bagaimana kemiskinan kerap “diwariskan” dalam lingkup keluarga, bukan karena niat buruk, tetapi karena ketidaksiapan dan keterpaksaan.

- Advertisement -

Jika siklus ini terus dibiarkan, kemiskinan akan tetap ada, bukan karena negara tidak berusaha, tetapi karena kita gagal memutus rantai yang sudah lama mengikat banyak keluarga. Dengan pendekatan yang lebih manusiawi, edukatif, dan berkelanjutan, harapannya kemiskinan tidak lagi menjadi warisan, melainkan tantangan yang bisa benar-benar kita atasi bersama.

Dwi Rachmawati
Dwi Rachmawati
Seorang pengajar di sebuah kampus swasta dan menyukai tentang dunia tulis menulis. Tertarik pada tema kemanusiaan, keseharian, dan makna di balik hal-hal sederhana. Percaya bahwa tulisan adalah cara jujur untuk memahami dunia dan diri sendiri.
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.