Selasa, Februari 17, 2026

TikToknisme dan Matinya Kepakaran: Filsafat Instan di Era Media

Kanz Luzman Ibrahim
Kanz Luzman Ibrahim
Saya adalah seorang alumni dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, program studi Hukum Keluarga. Saya sangat senang membaca, mempelajari hal baru, dan untuk saat ini ingin berfokus pada peningkatan writing skill
- Advertisement -

Dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia, filsafat kerap menjelma menjadi barang mewah. Ia bukan lagi laku berpikir yang serius, melainkan aksesori intelektual. Orang-orang berlomba mengutip kutipan para filsuf agar tampak “berkepala penuh”. Kata-kata yang dituding filosofis bertebaran di jagat maya—dengan TikTok sebagai salah satu punggawanya. Kehidupan tanpa filsafat dibayangkan sebagai kehidupan yang sepi dan tidak menantang, sementara mereka yang tak memahami apa itu “God is dead” kerap dianggap bukan bagian dari “ras Aryan modern”—terlepas dari betapa dangkal dan sepotong-sepotong pembacaan mereka atas Nietzsche.

Padahal, sejak awal sejarahnya, filsafat tumbuh melalui perdebatan yang serius dan mendalam. Socrates dan Pythagoras berdebat tentang ada tidaknya moral asali yang universal. Plato dan Aristoteles bertengkar sebagai guru dan murid mengenai hakikat suatu benda. Heraklitus dan Parmenides bersitegang soal perubahan dan keajegan. Rasionalisme berhadap-hadapan dengan Empirisme. Semua perdebatan itu lahir dari pembacaan yang panjang, perenungan yang intens, dan kesediaan untuk ragu terhadap diri sendiri.

Namun, di sudut dunia lain—yang ironisnya dihuni makhluk berakal—akal justru enggan digunakan. Alih-alih berpikir, lisan diobral dengan harga murah. Cukup mengutip sana-sini, membaca beberapa halaman pengantar, lalu merasa sah mengklaim diri sebagai penganut filsafat A, B, C, atau D. Fenomena inilah yang bisa kita sebut sebagai TikToknisme.

TikToknisme muncul sebagai reaksi—atau lebih tepatnya distorsi—dari filsafat itu sendiri. Ia adalah “aliran” absurd yang digerakkan oleh hasrat untuk dipandang, bukan untuk memahami. Hasrat ini mendorong apa yang bisa disebut sebagai onani intelektual: tampak canggih, namun sesat arah. Seandainya para filsuf yang telah lama terbaring bisa bangkit kembali, barangkali mereka bukan sekadar meluruskan, melainkan terkejut mendengar argumentasi para penganut TikToknisme.

Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Mengapa Tuhan membutuhkan bantuan malaikat, padahal Tuhan Maha Segalanya?” dianggap sangat tajam oleh penanyanya sendiri. Respons yang muncul pun tak kalah absurd: “Gue baca buku filsafat aja hampir gila, dah lah,” atau “Hati-hati sama filsafat,” hingga “Ini mah filsafat kelas ez, pertanyaannya rendahan semua.” Bukankah ini menarik untuk dibincangkan?

Fenomena ini selaras dengan apa yang dikenal sebagai Teori Dunning–Kruger. Teori yang diperkenalkan David Dunning dan Justin Kruger (1999) ini menjelaskan bagaimana individu dengan kemampuan rendah justru kerap memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Mereka merasa lebih tahu dari yang sebenarnya, tanpa menyadari keterbatasan pemahamannya sendiri.

Bayangkan seseorang yang dengan penuh percaya diri mengunggah video TikTok berisi potongan-potongan kutipan filsafat, seolah telah menaklukkan pemikiran para filsuf besar hanya dalam 60 detik. Dalam kurva berbentuk U yang menggambarkan teori ini, kepercayaan diri melonjak di tahap awal pengetahuan, sebelum akhirnya merosot ketika pemahaman benar-benar mulai mendalam. Di titik inilah ironi Dunning–Kruger bekerja: semakin banyak belajar, semakin sadar kita betapa sedikit yang kita ketahui.

TikToknisme juga menjadi contoh konkret dari apa yang disebut The Death of Expertise—matinya kepakaran. Istilah yang dipopulerkan Tom Nichols ini merujuk pada kondisi ketika pengetahuan dan keahlian yang telah teruji diremehkan, disetarakan dengan opini pribadi yang viral. Fakta dan metode berpikir kritis tergeser oleh keyakinan subjektif yang merasa cukup hanya karena “pernah baca” atau “pernah nonton”.

Meluasnya akses informasi melalui internet memang mempermudah siapa pun untuk mengetahui apa pun. Cukup ketik satu kata, klik “search”, dan—boom!—informasi hadir seketika. Namun kemudahan ini juga melahirkan ilusi pemahaman. Orang yang tak pernah bersentuhan dengan disiplin akademik dan metode berpikir yang ruwet bisa merasa setara dengan mereka yang menghabiskan bertahun-tahun untuk mendalami satu bidang. Dari rahim internet inilah TikToknisme lahir dan berkembang.

Dalam pusaran informasi yang serba cepat, fenomena Dunning–Kruger, matinya kepakaran, dan TikToknisme saling menguatkan. Konten filsafat dan gagasan kompleks direduksi menjadi konsumsi instan, kehilangan konteks dan kedalaman. Kepakaran terpinggirkan, digantikan oleh suara-suara yang lebih nyaring dan viral, meski miskin substansi. Opini pribadi dihargai lebih tinggi daripada pengetahuan yang teruji, membuka jalan bagi misinformasi dan kemalasan berpikir.

- Advertisement -

Di tengah semua itu, satu hal menjadi semakin penting: kesadaran diri dan kerendahan hati. Dalam dunia yang dipenuhi informasi, kita dituntut lebih bijak memilah mana yang bernilai dan mana yang sekadar sensasi. Menghargai proses berpikir mendalam, belajar dari mereka yang benar-benar memahami, dan berani mengakui keterbatasan diri adalah langkah awal untuk keluar dari jebakan keangkuhan intelektual.

Tanpa itu, filsafat akan terus direduksi menjadi sekadar hiasan—ramai dikutip, miskin dipahami.

Kanz Luzman Ibrahim
Kanz Luzman Ibrahim
Saya adalah seorang alumni dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, program studi Hukum Keluarga. Saya sangat senang membaca, mempelajari hal baru, dan untuk saat ini ingin berfokus pada peningkatan writing skill
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.