Dalam narasi kemajuan ekonomi hari ini, efisiensi sering kali menjadi dalih untuk menguras habis tenaga manusia. Jam kerja yang melampaui batas aturan normal tidak lagi dianggap sebagai pelanggaran, melainkan “loyalitas”. Fenomena inilah yang ditangkap secara tajam oleh unit Garage Rock/Punk asal Bogor, The Kampret, melalui single terbaru mereka bertajuk “Sambatku”.
Lagu yang dipayungi oleh Barvill Entertainment ini hadir sebagai sebuah interupsi estetik di tengah kebisingan industri musik yang sering kali abai terhadap isu struktural kelas pekerja.
Komodifikasi Waktu dan Runtuhnya Kemanusiaan
“Sambatku” lahir bukan dari ruang hampa, melainkan dari pengalaman personal yang pahit: realitas bekerja 14 jam sehari, 7 hari seminggu. Dalam kacamata sosiologis, kondisi ini mencerminkan apa yang disebut sebagai perbudakan modern. Ketika waktu manusia dikomodifikasi sedemikian rupa hingga tak ada lagi ruang untuk reproduksi sosial dan istirahat, manusia kehilangan kedaulatan atas dirinya sendiri.
“Lagu ini adalah representasi rasa frustrasi saya mencari uang buat nyambung hidup. Kerja 14 jam sehari tanpa libur. Ini bukan lagi soal produktivitas, ini soal bertahan agar tidak kehilangan kewarasan,” ungkap perwakilan The Kampret.
Melalui lirik “Sikat habis batas aturan normal / Tujuh hari penuh rasa sebal,” The Kampret tidak hanya sedang mengeluh, tetapi sedang menggugat normalisasi eksploitasi yang kini dianggap lumrah di berbagai sektor industri di Indonesia.
Distorsi sebagai Medium Kritik
Pemilihan genre Garage Rock yang mentah dengan distorsi kasar bukanlah tanpa alasan. Kemarahan terhadap ketimpangan sistemik tidak mungkin disampaikan dengan melodi yang tenang dan harmoni yang mapan. Distorsi tersebut adalah representasi dari “kebisingan” batin para pekerja yang tidak pernah didengar oleh pemegang kebijakan.
The Kampret juga menyentil aspek kelas melalui bait: “Beda kelas jurang ketimpangan / Gengsi bangsat realitas kehidupan.” Di sini, mereka memotret bagaimana jurang kesenjangan sosial memaksa individu untuk terus menghajar roda kehidupan meski raga sudah mencapai titik nadir, sering kali hanya demi mengejar standar hidup yang dikonstruksi secara paksa oleh pasar.
Mengembalikan Hak untuk “Sambat”
Di tengah dominasi hustle culture yang memuja kerja tanpa jeda, tindakan “sambat” atau mengeluh sering kali dipandang negatif. Namun, dalam perspektif “Sambatku”, mengeluh adalah tindakan politis paling dasar. Ia adalah pengakuan bahwa sistem sedang tidak baik-baik saja.
Single yang akan dirilis pada 27 Februari 2026 ini mengajak pendengarnya untuk berhenti sejenak dan menyadari posisi mereka dalam rantai ekonomi. “Sambatku” adalah kawan bagi mereka yang lelah, sekaligus pengingat bahwa di balik tumpukan beban kerja, masih ada martabat kemanusiaan yang harus dipertahankan.

Tentang Barvill Entertainment: Label rekaman independen yang berbasis di Banjarbaru, berkomitmen untuk menjadi ruang bagi karya-karya yang jujur, berani, dan relevan dengan dinamika sosial masyarakat kontemporer.
