Pada 9 Maret 1776, seorang filsuf moral asal Skotlandia menerbitkan sebuah buku setebal lebih dari 1.000 halaman dengan judul yang sama sekali tidak sederhana: An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations.
Adam Smith mungkin tidak berniat menciptakan sebuah revolusi. Namun karyanya justru melahirkan ekonomi modern, membongkar cara negara memahami kekayaan, dan—secara tidak langsung—membentuk sistem kapitalisme global yang kita jalani hingga hari ini.
Dua setengah abad kemudian, gagasan-gagasannya masih memicu perdebatan, memengaruhi kebijakan, dan menimbulkan polemik. Untuk itulah, buku ini layak dipahami kembali.
Kekayaan Bangsa Bukan Soal Emas
Pada abad ke-18, Eropa berada di bawah dominasi merkantilisme: keyakinan bahwa negara kaya adalah negara yang menimbun emas, membatasi impor, dan memaksimalkan ekspor.
Smith menyebut pandangan ini keliru secara fundamental.
Menurutnya, kekayaan sejati sebuah bangsa bukanlah cadangan logam mulia, melainkan kemampuan menghasilkan dan memperdagangkan barang serta jasa secara produktif.
Dalam bahasa modern: produktivitas nasional, bukan isi brankas. Negara yang miskin emas tetapi produktif akan mengungguli negara yang kaya emas namun stagnan. Sejarah kemudian membuktikan klaim ini—dengan cara yang kejam sekaligus akurat.
Pembagian Kerja: Mesin Tak Terlihat di Balik Kemakmuran
Smith membuka bukunya dengan contoh legendaris: pabrik peniti. Sepuluh orang pekerja yang masing-masing mengerjakan satu tahap kecil produksi dapat menghasilkan 48.000 peniti per hari. Jika setiap orang bekerja sendiri tanpa spesialisasi, hasilnya nyaris tidak berarti. Dari sini lahir gagasan kunci: Pembagian kerja adalah sumber utama peningkatan produktivitas.
Alasannya jelas:
- Keahlian meningkat karena fokus pada satu tugas.
- Waktu tidak terbuang untuk berpindah pekerjaan.
- Inovasi alat dan mesin menjadi mungkin.
Namun Smith menambahkan batasan penting: Pembagian kerja dibatasi oleh luas pasar. Spesialisasi hanya masuk akal jika ada cukup banyak orang yang membutuhkan hasilnya. Pasar kecil melahirkan pekerja serba bisa. Pasar besar melahirkan spesialis—dan kemakmuran.
Modal, Tabungan, dan Pertumbuhan
Pembagian kerja tidak terjadi di ruang hampa. Ia membutuhkan modal. Smith menekankan rantai sebab berikut:
- Tabungan memungkinkan investasi.
- Investasi memungkinkan perekrutan tenaga kerja.
- Tenaga kerja produktif menciptakan pertumbuhan.
Bangsa yang gemar mengonsumsi tanpa menabung akan stagnan. Bangsa yang menunda konsumsi demi investasi akan tumbuh. Kedengarannya sederhana. Dan memang demikian. Justru kesederhanaannya yang kerap mengganggu.
Tahapan Perkembangan Masyarakat
Smith memandang sejarah ekonomi sebagai proses evolusioner:
- Masyarakat pemburu
- Masyarakat penggembala
- Pertanian feodal
- Masyarakat komersial
Tahap terakhir—masyarakat perdagangan—ditandai oleh pembagian kerja yang luas, pasar besar, dan spesialisasi tinggi. Faktor geografis juga berperan penting. Wilayah dengan akses sungai dan laut berkembang lebih cepat. Transportasi murah memperluas pasar, pasar luas memperdalam spesialisasi. Rantai sebab-akibatnya tampak elegan, sekaligus brutal.
Kritik Keras terhadap Merkantilisme dan Monopoli
Bagian paling politis dari buku ini adalah kritik Smith terhadap:
- Monopoli negara
- Perusahaan dagang eksklusif
- Regulasi gilda
- Pajak yang diskriminatif
Menurut Smith, kebijakan semacam ini:
- Menguntungkan segelintir elite
- Menaikkan harga bagi konsumen
- Menghambat inovasi
- Melemahkan kesejahteraan jangka panjang
Ia bahkan mengkritik kolonialisme ekonomi dan memprediksi bahwa koloni seperti Amerika akan lebih makmur jika dibiarkan bebas. Prediksi ini—ironisnya—terbit tepat pada tahun Revolusi Amerika.
“Tangan Gaib” yang Sering Disalahpahami
Konsep invisible hand kerap disederhanakan menjadi slogan pasar bebas ekstrem. Padahal, Smith sendiri jauh lebih bernuansa.
Intinya sederhana: Individu yang mengejar kepentingan pribadinya, dalam sistem pasar yang kompetitif, sering kali justru memajukan kepentingan publik. Bukan karena niat baik, melainkan karena mekanisme harga, persaingan, dan insentif.
Pasar menghukum yang tidak efisien dan memberi ganjaran pada yang produktif. Sistem ini tidak sempurna, tetapi sering kali lebih adaptif dibanding perencanaan terpusat.
Peran Negara: Tidak Besar, Tidak Nol
Smith bukan penganut gagasan “negara nol”. Ia menetapkan tiga fungsi utama pemerintah:
- Pertahanan
- Penegakan hukum
- Penyediaan barang publik (infrastruktur dan pendidikan)
Ia juga merumuskan prinsip perpajakan yang masih diajarkan hingga hari ini:
- Adil
- Pasti
- Nyaman dibayar
- Murah dikumpulkan
Peringatannya tegas: pajak yang buruk merusak insentif, industri, dan keadilan sosial.
Warisan yang Tidak Pernah Netral
The Wealth of Nations:
- Mendefinisikan ulang arti kekayaan
- Melahirkan ekonomi sebagai disiplin ilmiah
- Memberi fondasi teoretis bagi kapitalisme
- Menjadi rujukan permanen dalam debat kebijakan publik
Buku ini bukan kitab suci. Smith sendiri skeptis terhadap pedagang, monopoli, dan kekuasaan ekonomi yang terlalu terkonsentrasi. Namun satu klaimnya tetap bertahan: Standar hidup naik bukan karena niat baik, melainkan karena produktivitas. Produktivitas lahir dari kerja, spesialisasi, tabungan, investasi, serta institusi yang tidak merusaknya.
Penutup
The Wealth of Nations bukan bacaan ringan. Namun ia menjelaskan dunia tempat kita hidup: mengapa negara menjadi kaya, mengapa negara jatuh miskin, dan mengapa kebijakan yang tampak “patriotik” sering kali justru merugikan rakyatnya sendiri.
Membacanya hari ini bukan sekadar nostalgia intelektual, melainkan latihan memahami mesin tak kasatmata yang masih menggerakkan ekonomi global.
Dan seperti mesin apa pun, ia hanya bekerja dengan baik jika kita benar-benar memahaminya.
