Sabtu, Maret 1, 2025

Gen Z: Tertimpa Judol, Diburu Pinjol

Muhammad Sabilul Aslam
Muhammad Sabilul Aslam
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - Santri Denanyar - Kader PMII Ciputat
- Advertisement -

Di Tengah perkembangan teknologi dan informasi yang begitu cepat, ada begitu banyak tantangan yang dihadapi khususnya oleh Generasi Z (GenZ). Sebagai generasi yang lahir di Tengah arus besar teknologi tantangan utama Gen Z tidak hanya sebatas beradaptasi pada percepatan pengarusutamaan teknologi dan informasi pada kehidupan sosial,budaya melainkan juga dalam aspek tenaga kerja.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, pada 2023, sebanyak 9,9 juta penduduk generasi muda usia 15-24 tahun tidak bekerja sekaligus tidak sedang bersekolah atau menjalani pelatihan. Dari jumlah tersebut, terdapat 5,73 juta perempuan muda dan 4,17 juta laki-laki muda yang menganggur.

Di antara sekian banyak persoalan yang menyangkut generasi Z selain aspek pekerjaan adalah kuatnya daya tahan gen z bermain judi online. Sudah nganggur, bermain judi online pula. Seperti keluar dari kendang singa masuk ke kendang macan.

Slogan menuju Indonesia emas 2045 sontak terdengar hanya isapan jempol belaka, sebab data PPATK menunjukkan bahwa sebanyak 191.380 anak di rentang usia 17–19 tahun terlibat dalam judi online dengan 2,1 juta transaksi mencapai Rp282 miliar. Mirisnya lagi, sebanyak 1.160 anak berusia kurang dari 11 tahun diketahui telah melakukan 22.000 transaksi judi online dengan nilai transaksi sekurangnya Rp3 miliar. Begitu besarnya transaksi menunjukkan GEN Z ialah taget pasar potensial yang mampu dikeruk oleh bandar judol.

Pengurangan Usia Produktif

Angka usia produktif Angkatan kerja di Republik Indonesia berkisar pada rentang usia 15-64 tahun. Generasi Z yang berumur sekitar 19 – 28 tahun tergolong masuk dalam usia profuktif dalam Angkatan kerja. Apabila pada rentang umur sekian mereka terdampak judi online sebab geliat aktifitas dunia maya yang begitu deras tak heran apabila pengangguran Gen Z meningkat.

Dalam rentang usia tersebut sudah sepatutnya Gen Z mengelola daya melek digitalnya untuk meningkatkan skill dan produktifitas agar tidak lapuk di makan zaman dan lemah di gempur pekerja asing. Dampak dari minimnya produktifitas Angkatan kerja dan bermain judi online ialah pengangguran meningkat dan diikuti oleh masifnya kriminalitas. Bila hal tersebut tetap dipertahankan dan tidak dicegah oleh pemangku kebijakan, dampak buruknya ialah terganggunya bonus demografi 2030 akibat tingginya pengangguran, masifnya kriminalitas dan nir skill Angkatan kerja muda.

Bencana sosial Judi Online

Beberapa hari belakangan tersiar berita ayah membunuh satu keluarganya di Kota Tangerang Selatan yang disebabkan oleh terlilitnya kepala keluarga pengangguran oleh pinjol dan judol. Dalam konteks ini, dapat dipastikan daya rusak sosial yang ditimbulkan oleh kombinasi pengangguran, bermain judi, dan pinjol sangat besar. Sehingga perlu mendapat perhatian khusus oleh pemerintah baik pusat maupun daerah.

Dampak kecanduan judi online sama rusaknya dengan kecanduan narkoba. Pengguna akan selalu merasa ingin menang dan menang tanpa memikirkan dampak yang akan datang. Seperti Gen Z, mereka memiliki sifat ingin melakukan sesuatu secara cepat dan mendapatkan profit secara instan. Pelaku judi daring akan selalu mengabaikan aspek norma, etika agama sebagai nilai. Haram dan halal tampak bias yang terpenting bagi mereka adalah mendapatkan uang secara cepat.

Melihat beigtu masifnya penyebaran virus judi online jika tidak segera dituntaskan utamanya di kalangan anak muda akan sangat berbahaya. Tidak heran bila anak muda gampang sekali abai dengan nilai nilai luhur budaya Indonesia, Untuk itulah pemberantasan judi online tidak cukup dengan menangkap KOMDIGI yang melindungi server judi online dan tidak cukup juga dengan memblokir situs judi. Pemberantasan judol sudah sepatutnya menjadi perhatian pemerintah dengan melakukan intervensi khusus kepada korban dan generasi yang menjadi target pasar mereka.

Jatuh tertimpa Pinjol

Bagi gen z, pepatah yang relevan untuk generasi mereka bukanlah Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga melainkan Sudah tertimpa judol, Diburu Pinjol. Pepatah ini menggambarkan betapa buruknya potret judi online dan pinjaman online yang menimpa anak muda. Seringkali, rendahnya literasi keuangan mengakibatkan mereka nekat menempun jalan pintas dalam mendapatkan uang untuk modal Judi Online yakni Pinjaman Online.

- Advertisement -

Dengan proses persyaratan yang mudah serta pencairan yang cepat, mereka dengan ringan bermain judi online menggunakan uang pinjaman daring. Dr Dr. Vagdevi Meunier menyebutkan bahwa ada unsur dopamin yang bisa meningkat ketika seseorang melakukan sesuatu secara berulang, terutama suatu kegiatan yang sifatnya semakin lama menjadi semakin sulit atau kompleks sepertihalnya judi online.

Faktor kecanduan ini yang menjadikan pelaku judol seringkali mengabaikan nilai moral dan dampak sebab akibat mereka bermain judi online. Akibatnya kriminalitas meningkat, pinjaman online menjadi Solusi pintas yang tak bisa dipisahkan.

Alih-alih dengan judi melunasi hutang, malah hutangnya semakin menjadi jadi.Pelaku yang merasa menang judi online seringkali tidak membayar hutang kepada pihak pemberi pinjaman seperti teman, sahabat dan penyedia layanan pinjaman daring

Lantas, Pelaku yang merasa diburu hutang dan dicari rentenir nekat mengambil jalan pintas melakukan tindak criminal. Lebih dari itu, pelaku yang tidak kuat mental dan merasa terus diteror rentenir Pinjol ia nekat mengakhiri hidupnya ang berdampak pada perekonomian keluarga apabila terjadi pada kepala keluarga.

Pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus mencari Solusi efektif dalam rangka mengurangi adiktif pinjaman online dan judi online. Tak cukup berbekal blokir situs judi daring tapi juga melalui Pendidikan literasi keuangan yang komprehensif dimulai dari tingkatan remaja. Agar masa depan Indonesia tak terganggu sebab mentalitas judi dan nekat generasi muda.

Muhammad Sabilul Aslam
Muhammad Sabilul Aslam
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - Santri Denanyar - Kader PMII Ciputat
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.