Kelahiran merupakan suatu anugrah yang begitu agung dari Allah Yang Maha Kuasa. Secara implisit Allah menyebutkan peristiwa kelahiran sebagai kabar gembira (basyi>r), dalam Alquran. Kata basyi>r yang menyinggung peristiwa kelahiran seorang anak setidaknya disebutkan sebanyak delapan kali. Surat-surat tersebut di antaranya ialah, QS. Ali Imran: 39; QS. Hud: 71, QS. Hijr: 53; QS. Al-Nahl: 58; QS. Al- Shaffat: 101, 112; QS. Al-Zukhruf: 17; dan QS. Al-Zariat: 28.
Sebagian besar dari surat-surat tersebut menerangkan kelahiran-kelahiran nabi-Nya–seperti Yahya, Ishak dan Ismail. Sekalipun, dua di antaranya menerangkan watak orang Arab yang tidak menyukai kelahiran seorang anak perempuan–kala itu. ‘Alakulihal, kelahiran tetaplah menjadi suatu kabar atau berita yang patut disambut oleh suka cita.
Lebih lanjut, bila ditelisik secara etimologi (bahasa), kata basyi>r itu sendiri, memiliki beberapa pengertian seperti husun atau jumal (baik; indah) atau surra dan farh (senang; bahagia). Sehingga pengertian basya>r amatlah tepat kiranya bila dipersandingkan dengan suatu peristiwa gembira seperti halnya kelahiran. Sehingga berdasarkan keterangan ini, sudah barang tentu bila ‘Peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW’ patutnya disambut dengan penuh suka cita.
Tentu, bukan seperti perayaan-perayaan ramai namun tidak bermakna, atau sebuah euporia yang sesat sebagai pengalih dari suntuk dan kejemukkan semata. Melainkan berupa luapan syukur atas tanda kasih sayang Allah yang telah memberkahi kelahiran sebagai tanda kebahagiaan, sebab tidak akan kita merasakan kebahagiaan bilamana kehidupan sendiri tidak pernah kita rasakan.
Momentum perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW ini merupakan bagian dari tonggak sejarah umat manusia. Pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal tepatnya ketika gonjang-ganjing Raja Abraham bersama altileri gajahnya lululantah di depan pelataran Makkah. Lahir seorang anak bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib.
Muhammad terlahir sebagai seorang yatim, disusul dengan kepergian ibundanya, Aminah di umur 6 tahun. Kakeknya, Abdul Muthalib yang sangat mencintainya pun pergi dua tahun selepas kepergian ibunya. Selepas itu, Muhammad berpindah ke tangan asuhan pamannya, Abu Thalib. Kepergian orang-orang tercintanya itu telah membekas begitu kuat, alih-alih menjadikannya lemah, peristiwa-peristiwa tersebutlah yang menjadikan Muhammad kecil dewasa dan berbudi luhur pada usiannya yang masih belia.
Rasulullah pernah bersabda mengenai hal ini. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Annas bin Malik RA, Rasul SAW berkata: “Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” (HR. Ibnu HIbban).
Maka sudah barang tentu bahwa kelahiran itu merupakan suatu nikmat yang tiada tara dari Allah SWT. Akan tetapi, sekalipun demikian, kelahiran tetaplah suatu perjalanan yang berujung pada suatu tragedi berupa kematian, sebagaimana terdapat adagium berucap, ‘Setiap kelahiran pasti ada kematian dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan’, Sehingga, sudah sepantasnya kita merayakan momentum Maulid Nabi ini dengan khidmat, disertai dengan sikap mawas diri yang tertuju kepada suatu sikap taqwa.Menjadikan moment ini sebagai media kita untuk ber-tadzakkur (pengingat) ber-tafakkur (berpikir) dan ber-tadabbur (merenung) atas nikmat-Nya.
Mensyukuri sebuah kelahiran adalah keniscayaan bagi umat manusia, namun nikmat keberadaan dan kehadiran di dunia ini jarang sekali orang petik sebagai buah kenikmatan yang patut disyukuri adanya. Alih-alih demikian, banyak orang yang pesimis justru mengutuk kehidupan ini dan menganggap bahwa hidup ini sebagai suatu kesia-siaan belaka. Padahal Islam telah mendasarkan kehidupan ini sebagai karunia dan anugrah yang besar dari Allah SWT.
Baik dalam sudut pandang yang berdasarkan kepada kejadian di alam dunia maupun alam ruh. Allah telah mengisyaratkan kepada manusia perihal mensyukuri anugerah kehidupan ini. Hal itu tersebut misalnya di dalam QS. al-Nahl: 78, Allah berfirman:
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur. “(QS. al-Nah: 78).
Lebih lanjut, dalam firman-Nya yang lain, yaitu QS. Al- Sajadah: 9, Allah berfirman:
“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS. Al-Sajadah: 9)
Kesadaran atas rasa bersyukur ini hendaknya dipupuk dan dijaga oleh seluruh umat yang mengaku beriman, sebab melalui kesadaran semacam inilah kita selaku pengikut Nabi Muhammad bisa terjauh dari segala gundah gulana kehidupan. Tak ayal, bila Allah memerintahkan setiap hamba-Nya untuk senantiasa bersyukur atas segala hal yang diberikannya. Sebab bilamana seorang hamba jauh dari rasa syukur, maka sejatinya dia telah membenamkan dirinya pada kezaliman. Allah berfirman dalam QS. Ibrahim: 7 sebagai berikut:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
Lantas bagaimana selanjutnya? Apa yang harus kita lakukan setelah mensyukuri nikmat kehidupan ini? Mari kita lihat kembali kepada uraian Alquran.Tiada lain bahwa sebaik-baiknya jawaban adalah jawaban dari Kebenaran itu sendiri, SangHaqq, Allah SWT berfirman:َ
“Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar, dan agar setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.” (QS. Al-Jatsiyah: 22).
Dalam ayat yang lain, Allah berfirman:َ
“Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan. Namun orang-orang yang kafir berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka.” (QS. Ahqaf: 3).
Dua ayat ini menegaskan kembali kepada kita bahwa Allah sekali-kali tidak menciptakan sesuatu kecuali sesuatu itu memiliki tujuan tertentu. Bukanlah perkataan seorang yang mengaku beriman ketika mengaggap bahwa kehidupan ini hanyalah permainan dan senda gurau semata yang tidak memiliki tujuan.
Demikian pula, dalam hal yang telah penulis singgung sebelumnya yaitu anugrah kelahiran setiap manusia terkhusus kelahiran suri tauladan umat, Muhammad SAW. Sebagaimana dalam sabdanya, ‘sesungguhnya aku (Muhammad) diutus tidak lain, tidak bukan yaitu untuk memyempurnakan perangai yang mulia’. Tujuan inilah yang berkaitan pula dengan misi agung Muhammad sebagai nabi dan rasul yang rahmatan lil ‘alamin.
Oleh karena tujuan Muhammad lahir ke muka bumi secara umum sebagai seorang pembawa risalah ajaran agung yang mengajak umat manusia kepada kualitas diri paling purna. Maka seturut dengan itu, sebab-sebab dari kelahiran umat manusia–yang beriman khususnya– sejak masa lampau hingga dewasa tiada lain ialah untuk menjadi seorang yang berpribadi luhur (makarimal akhlaq). Menjadi pelopor, penengah dan penerus risalah agung ini dengan menjadi pemuka kedamaian dan keluhuran budi bagi seluruh umat, Allah berfirman dalam QS. Al- Baqarah: 143 sebagai berikut:
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan”agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Al-Baqarah: 143).
Maka ketika umat yang mengaku beriman telah sampai pada kualitas berikut, yaitu kualitas yang diliputi oleh kesempurnaan diri berupa pemanfaatan potensi-potensi yang diberikan Allah kepada kita dengan memaksimalkannya pada penciptaan kemaslahatan di seluruh penjuru alam. Kemudian diliputi pula oleh rasa syukur dan kerinduan kepulangan pada-Nya. Sehingga kematian tidaklah memisahkannya pada kenikmatan hidup, melainkan akan terus abadi sebagai rezeki yang Allah anugrahkan kepadanya. Allah berfirman dalam QS. ALi Imran: 169-170:
“Janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup dan dianugerahi rezeki di sisi Tuhannya. Mereka bergembira dengan karunia yang Allah anugerahkan kepadanya dan bergirang hati atas (keadaan) orang-orang yang berada di belakang yang belum menyusul mereka, yaitu bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (Alquran Surat Ali Imran, 169-170).
Oleh karena itu, penulis mengajak kepada seluruh umat yang mengaku beriman, terkusus diri pribadi. Pada moment Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1444 ini untuk kembali memustakan perhatian diri kita pada tonggak-tonggak kelahiran kita di muka bumi ini dengan penuh syukur. Mengaitkan kelahiran kita kepada tugas-tugas dan tujuan utama manusia yang dikehendaki Tuhan dan rasul-Nya yaitu di muka bumi ini, yaitu sebagai hambanya yang taat serta memaksimalkan perannya sebagai khalifah fi al-ard untuk menebar kemaslahatan.
Sehingga dengan itu, kita dapat memperoleh rahasia mahabbah (kecintaan) dari-Nya. Apa itu mahabbah? Ibn al-Qayyim menerangkan demikian, “Kedudukan yang diperoleh seorang hamba melalui penempaan diri dengan bergegas dalam berlomba-lomba kepada suatu amalan shalih” Selain dari pada gelaran mahabbah ini, tentunya Allah akan membukakan rahasia-Nya kepada manusia yang dipilihnya. Rasul bersabda:
“Manusia adalah rahasia-Ku, dan Aku adalah rahasianya. Ilmu pengetahuan batin adalah salah satu rahasia tentang rahasia-Ku. Aku hanya memberikannya kepada hati hamba-Ku yang salehm dan tak seorang pun yang tahu keadaannya selain Aku.
Wallahu ‘Alamu bi al-Shawwab
